Kamis, 24 Desember 2015
Selasa, 25 Februari 2014
New..
Ini serasa seperti bulan baru..
Bulan baru karena ini memang tak seperti seharusnya..
Aku telah melewati banyak kerikil hingga sampailah pada tembok yang sangat menjulang tinggi..
Aku rasa aku mampu melewatinya tapi aku ragu..
Aku ragu aku akan seperti apa setelah melewati tembok itu..
Aku hanya tak ingin ada yang kecewa karena itu..
Berjuta-juta kerikil aku sanggup..
Karena itu hanya kerikil kecil tak berarti..
Aku sempat memutuskan untuk kembali..
Namun tak lama aku berpaling dan berjalan kembali menuju tembok tersebut..
Mungkin ini yang namanya dilema..
Seperti bingung, tak tahu arah, serba salah..
Ada perasaan yang begitu aneh menggelitik disini..
Perasaan yang dulu pernah aku rasakan ketika aku memutuskan untuk memulai..
Namun ini lebih hebat..
Entah layak atau tidak aku merasakan ini kembali..
Nyaman, hangat, penuh kelembutan, tetapi kuat..
Kukira hanya segelintir asa, tetapi lebih dari itu..
Sejenak aku diam, merenung, rasa ini begitu merasuk sukma..
Aku menganggapnya ini sebuah anugerah..
Aku tetap berusaha bersyukur walau tak tahu akhirnya..
Aku menikmati ini dalam kesakitanku..
Seperti hal yang layak atau tidak untuk diperjuangkan..
Entahlah, itu hanya ada dalam pikiranku..
Dia, terus menerus menyakinkanku bahwa kita sanggup..
Dia, membuatku merasa seperti mahkota yang selalu diperebutkan dan dibanggakan..
Dia, layaknya kelembutan kapas dalam untaian benang..
Dia, yang terus bersedia memeberikan bahunya..
dan Dia, yang akan selalu indah saat ku pejamkan mata dalam pelukannya..
Bulan baru karena ini memang tak seperti seharusnya..
Aku telah melewati banyak kerikil hingga sampailah pada tembok yang sangat menjulang tinggi..
Aku rasa aku mampu melewatinya tapi aku ragu..
Aku ragu aku akan seperti apa setelah melewati tembok itu..
Aku hanya tak ingin ada yang kecewa karena itu..
Berjuta-juta kerikil aku sanggup..
Karena itu hanya kerikil kecil tak berarti..
Aku sempat memutuskan untuk kembali..
Namun tak lama aku berpaling dan berjalan kembali menuju tembok tersebut..
Mungkin ini yang namanya dilema..
Seperti bingung, tak tahu arah, serba salah..
Ada perasaan yang begitu aneh menggelitik disini..
Perasaan yang dulu pernah aku rasakan ketika aku memutuskan untuk memulai..
Namun ini lebih hebat..
Entah layak atau tidak aku merasakan ini kembali..
Nyaman, hangat, penuh kelembutan, tetapi kuat..
Kukira hanya segelintir asa, tetapi lebih dari itu..
Sejenak aku diam, merenung, rasa ini begitu merasuk sukma..
Aku menganggapnya ini sebuah anugerah..
Aku tetap berusaha bersyukur walau tak tahu akhirnya..
Aku menikmati ini dalam kesakitanku..
Seperti hal yang layak atau tidak untuk diperjuangkan..
Entahlah, itu hanya ada dalam pikiranku..
Dia, terus menerus menyakinkanku bahwa kita sanggup..
Dia, membuatku merasa seperti mahkota yang selalu diperebutkan dan dibanggakan..
Dia, layaknya kelembutan kapas dalam untaian benang..
Dia, yang terus bersedia memeberikan bahunya..
dan Dia, yang akan selalu indah saat ku pejamkan mata dalam pelukannya..
Selasa, 19 Maret 2013
Tali Lurus
Bismillahirahmaanirrahiim
Ini mengenai sepenggal cerita
kehidupanku..
Sejak kelahiranku, yang aku
tahu aku hanya berlari pada satu tali lurus..
Aku belajar, memahaminya, berjalan,
hingga akhirnya aku mampu berlari di atas tali yang lurus nan panjang itu..
Aku melaluinya dengan
perasaan biasa dan tanpa penyesalan untuk melihat ke belakang..
Keberhasilanku untuk berlari
membawaku hingga aku tumbuh dan kian tumbuh..
Aku hanya menemukan satu
pepohonan dengan daun yang tak begitu lebat..
Pohon itu rindang seolah
menggodaku untuk berteduh dibawahnya selama aku letih untuk berlari..
Namun aku tetap berlari, tak
ada waktu istirahat yang cukup untukku berpikir bahwa pohon itu mampu
menghilangkan letihku sejenak..
Anehnya, aku tak pernah
kehilangan energi untuk terus berlari pada tali itu..
Hingga sampai pada ujung tali
persimpangan dimana tali itu bercabang ratusan, bahkan ribuan..namun aku tetap
memilih lurus hingga aku sampai pada saat ini..
Aku berlari untuk tetap lurus
bukan tanpa alasan..
Alasanku untuk tetap lurus
adalah energiku..
Ya, energiku yang tak pernah
habis itu berasal dari 1 sumber dan sumber itu tak memberikanku pilihan untuk
berteduh di pohon tadi ataupun belok sesuka hatiku di ujung persimpangan tadi..
Namun sekarang aku lelah, aku
benar2 lelah karena energiku tadi menjadi kurang dari cukup untuk berlari..
Dan masalahnya, aku terlambat
untuk berteduh di pohon tadi dan terlambat pula untuk belok sesuka hatiku di
persimpangan tadi..
Sekarang aku menemukan jalan
buntu dengan energi yang tersisa..
Aku hanya mampu bernapas
namun tak mampu berdiri bahkan berlari kembali..
Aku hanya menunggu energi
tambahan itu muncul memberiku semangat untuk berlari..
Kamis, 31 Januari 2013
Tujuh hari dengan Hujan
Bismillahirrahmaanirrahiim
Malam ini, tepat tgl 250113
adl hari dimana seharusnya dia sudah sembuh dari penyakitnya yg divonis gejala
dbd, ya sudah hari ke-8.
Seminggu yang lalu, hari demi
hari adalah hari dimana aku melihatnya begitu berbeda.
Sudah jelas, lelaki yang amat
ku sayangi terkena penyakit yang menurut pengetahuan dunia maya adalah
berbahaya.
Walaupun aku tahu itu belum
positif dan hanya gejala tapi tak semudah itu aku menghilangkan segala
kemungkinan yang ada.
Aku menjadi wanita yang
begitu rapuh dan lemah saat membuka lembaran hasil lab itu.
Ya aku rapuh, sangat rapuh,
mungkin lebih rapuh darinya bahkan dari apa yang ia bayangkan.
Betapa tidak, siapapun yang
ada diposisiku pasti mengalami hal yang sama.
Tetapi, semua kerapuhan itu
mampu aku tutupi.
Aku mengumpulkan seluruh
semangatku dengan sekuat tenaga didepannya.
Aku semangat karena cintaku
kepadanya yang mendorongku untuk semangat, merawatnya, menjaganya hingga
benar-benar pulih.
Aku sangat semangat
merawatnya ketika aku berpikir bahwa keceriaannya adalah mimpiku saat itu.
Aku sangat semangat
merawatnya ketika aku berpikir bahwa nafasnya adalah hidupku.
Dan aku sangat semangat
ketika aku merasakan bahwa dia adalah hatiku.
Karena dia hatiku, maka aku
akan menjaga hatiku dengan cinta.
Aku menahan semua air mataku
ketika didepannya, dan membiarkannya terjatuh ketika aku sendiri.
Saat hari demi hari berganti,
aku terus berdoa dan tak henti agar Tuhan juga mau menjaga hatiku, bersamaku,
dan untukku.
Jauh didalam lubuk hatiku
selama 7 hari ini, aku tidak menemukan dirimu. Itu sebabnya aku memberitahumu
bahwa "akhirnya pacaran juga"
Itu artinya baru hari ini aku
menemukanmu utuh beserta keceriaanmu. Hatiku kembali. Betapa bahagianya aku
seandainya kamu dapat membaca pancaran mataku.
Setelah ini semua, kamu
berjanji takkan sakit lagi.
Sebenarnya aku hanya
menghibur diriku, yang artinya berjanjilah padaku sayang, kamu jangan
menyakitiku seperti ini lagi, dengan ketidaksehatanmu. Sungguh itu membunuhku.
I Love You So Much Andreas Gerald Rorimpandey :)
Senja
Bismillahirrahmanirrahiim
Senja ini..
Saat aku menatap jauh ke luar
jendela
Saat itu langit dunia ini
sedang menumpahkan tangisannya
Ya..setetes demi setetes
hujan membasahi dunia fana ini
Aku menatap jauh kedalam
tetesan hujan dan aku menemukan bahwa mereka sedang berusaha memberitahukan
lisannya kepadaku
Ku coba menerka yang
sesungguhnya
Mereka memberitahuku bahwa
kesendirian bukanlah sebuah takdir melainkan suatu keadaan dimana kita tak
mampu menerima lingkungan
Tak ada yang salah dengan
diri kita
Hanya sebuah kemunafikan
menerkam habis keikhlasan
Air mata langit..
Mereka berkata bahwa mereka
pun datang tak sendiri
Hal lain yang mampu mereka
ajak adalah angin
Ya..mereka saja mampu membawa
angin untuk kehidupan yang lain
Kenapa aku tak mampu membawa
sesuatu untuk kehidupan yang lain, setidaknya kehidupanku
Mereka mengajarkanku bahwa
setelah kedatangannya maka akan muncul lukisan langit yang luar biasa..ya
itulah pelangi
Mereka berkata padaku bahwa
dunia akan selalu berputar dimana setelah langit menangis akan selalu ada
senyuman indah yang asalnya pun dari langit
Dunia pun begitu
Akan selalu ada kebahagiaan
setelah datangnya kesedihan
Aku malu jika hujan pun mampu
berkata seperti itu
Jika memang benar semua itu,
maka aku tak perlu kuatir saat kesedihan menghampiri kita ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)
